cekidot!!!
Kulihat
senyumnya saat ia berpapasan denganku, diantara teman temanya ia
melihat langsung kemataku walau hanya beberapa detik, tapi itu cukup
untuk membuatku tercengang. Aku adalah orang yang sudah lama mati rasa,
Aku hanyalah penyendiri yang tak pernah bisa mengatakan apa yang kurasa
kepada siapapun secara langsung. Aku hanyalah seorang penyendiri yang
hanya bisa memandang dari jauh, memandang kerumunan orang-orang dengan
kesibukannya masing-masing. Aku adalah seorang yang selalu merasa cukup
untuk tersenyum sendirian, aku adalah seorang pengagum rahasia.
Mata
itu, mata itu telah membuat garis melengkung di bibirku, memberikan detak-detak tak biasa di jantungku. Aku mengagumi bagai mana caranya
tersenyum, sangat indah meski bukan di tujukan untukku. Aku mengagumi
bagai mana caranya memandang ceria saat teman-temannya membuat lelucon.
Aku selalu mengagumi apapun yang ia lakukan, meski tak satupun yang ia
lakukan itu untukku.
Aku
heran, bagai mana bisa ia muncul di depanku bahkan saat aku menutup
mata, bagaimana ia bisa selalu membuatku tersenyum saat melihatnya. Aku
selalu heran bagaimana ia bisa memberhentikan waktu saat aku melihatnya
tertawa. Tapi aku harus sadar bahwa waktu terus berjalan.
Setiap
hari aku berusaha datang pagi-pagi sekali, duduk di koprasi yang berada di
dekat gerbang sekolah agar aku bisa melihatnya melewati gerbang itu,
setiap jam istirahat aku tidak langsung keluar, aku menunggu di kelasku,
memandang keluar jendela untuk melihatnya lewat. Aku selalu mencari
kesempatan agar bisa melihatnya atau kalau beruntung aku bisa berpapasan dengannya.
Setahun
sudah berlalu sejak pertama aku melihatnya. Sudah setahun pula berlalu
sejak aku mulai menyukainya. aku mengetahui namanya, bukan karna aku
bertanya langsung padanya, bahkan aku tidak berani bertanya ke teman-temannya, aku hanyalah seorang pengecut. Aku mengetahui namanya karena keberuntungan, aku mendengar teman-temanya memanggil dia “Putri” ya, namanya adalah Putri.
Sedangkan namaku, ah, namaku tidaklah penting. toh, tak pernah ada yang
memanggil namaku selain keluargaku. Kalian boleh memanggil ku dengan
sebutan apa saja.
Aku
adalah siswa kelas tiga SMK yang sebentar lagi akan lulus sekolah,
ujian sudah kulalui. Itu tanda bahwa sebentar lagi aku tidak akan
bisa melihatnya lagi, akan sulit untuk dapat melihatnya tersenyum, akan
sulit membuat garis lengkung itu lagi tercipta di bibirku saat
melihanya. entah kekuatan apa yang membuatku tiba-tiba berpikir untuk
meminta nomor ponselnya. Berharap aku bisa berhubungan dengannya melalui
dunia maya sebagai teman ngobrol. Tapi, HEY, aku bahkan belum pernah
menyapanya!
Di
suatu pagi, guruku memberikan selembar kertas. kertas yang di
peruntukan siswa yang akan segera menjadi alumni. Aku dan semua siswa
kelas tiga lainnya harus memasukan data diri di kertas itu, dan juga ada
bagian yang mengharuskan memasukan data diri adik kelas sebagai orang
yang dapat dihubungi untuk mengetahui informasi dari sekolah. Terbesit
di pikiranku untuk memasukan nama putri di bagian itu, ini mungkin adalah
suatu kesempatan, sebuah alasan yang tepat agar aku dapat meminta
nomor ponsel Putri. dengan alasan, sebagai perantara aku dengan informasi
di sekolah. ya, ini adalah alasan yang sempurna.
Masalahnya sekarang bagai mana aku dapat mencari kesempatan yang tepat untuk bertemu dengannya, dan bilang, “Hei Put,
boleh aku minta nomormu untuk data siswa yang dapat di hubungi alumni?”
ya, bahkan sebelum mengatakannya aku sudah tau kata-kata itu sangat payah.
Tapi itulah yang kukatakan saat aku berhasil mengumpulkan keberanian
dan dapat moment yang tepat. saat ia lewat di depan kelasku bersama
seorang temannya. Tak pernah terbanyangkan sebelumnya, aku berhadapan
dengannya. orang yang sudah setahun ini kusukai dan hanya bisa memandang
dari jauh. momen paling menegangkan dalam hidupku. Bahkan lebih
menegangkan dari pada saat aku mendaki sebuah tebing terjal di acara
pramuka dulu. Kejadiannya sangat singkat. Aku menyapanya, dan
menjelaskan tentang selebaran itu. Meminta nomornya lalu pergi. Aku juga
tidak pernah menyangka kalau dia ternyata mengetahui namaku. Itu adalah
hal sangat membahagiakan, hal sederhana yang dapat membuatku tersenyum
seharian.
Sepulangnya,
saat aku berada di bis menuju rumahku di tangerang, aku memberanikan
diri untuk mengiriminya pesan singkat. Dengan gugup aku menuliskan
“Hey.” lalu kukirim, Dan beberapa menit kemudian ponselku berbunyi
menandakan sebuah pesan telah masuk.
Putri membalas.
“siapa ini?” aku
baru ingat, dia memang belum tau nomorku dan aku juga tak menyebutkan
siapa diriku di sms pertamaku itu. Lalu kubalas dengan cepat “saya ****
”, aku adalah tipe orang yang cepat dalam membalas SMS. Dan dia adalah
tipe orang yang membalas sms dengan cepat walau singkat. “oh, kak
****, kenapa kak?” dan mulai saat itulah, setiap hari kita berkirim SMS,
membicarakan hal hal yang sebenarnya tidaklah penting atau pun serius,
aku selalu berusaha membuat lelucon lelucon di setiap pesan singkat yang
sebenarnya sangat panjang, walaupun aku tau banyak leluconku yang
garing. ia selalu membalas pesan singkat itu dengan sangat singkat. Aku
tak pernah mempermasalahkan SMSnya yang sangat singkat itu, karena walau
singkat ia terus membalas, di pagi, siang dan malam
Kita
sering berkirim SMS, tapi saat berpapasan disekolah kita hanya saling memberikan
senyum, tak pernah sekalipun duduk berdua untuk sekedar berbincang. Itu
terus terjadi bahkan sampai aku lulus dan meninggalkan sekolah. setidaknya, walaupun sudah lulus aku dan putri terus berhubungan lewat pesan-pesan singkat setiap harinya. Pagi, siang dan malam.
Satu
hal yang aku ketahui tentang Putri. ia adalah orang yang memiliki
kebiasaan untuk tidur sangat larut malam atau bahasa kerennya
“insomnia”.
Walaupun
aku bukan tipe orang yang bisa tetap bermata segar saat malam tapi aku
selalu berusaha untuk menemaninya SMSan sampai ia tertidur.
Aku juga mengetahui kalo Putri memiliki seorang pacar, aku tidak
mengenal pacarnya dan aku juga tak pernah berusaha mencari tau, aku
menyukai putri dan hanya itu, tak ada sedikitpun terbesit di pikiranku
ini unuk berpacaran dengannya, aku selalu merasa cukup denan terus
berkirim SMS dengannya setiap hari.
Menyukai putri juga membuatku
seperti mati rasa kepada wanita lain. Sebenarnya aku ini bukanlah orang yang jelek, yah, menurut pendapatku
sendiri sih begitu, beberapa wanita bahkan pernah memintaku untuk
menjadi pacarnya. Bukan hal sulit untukku untuk sekedar mencari teman
jalan, menonton ke bioskop, atau hal hal lain, tapi aku selalu menolak
wanita-wanita yang datang kepadaku, bukan karena mereka jelek atau
mereka orang yang tidak menyenangkan, malah bisa dibilang mereka itu
cantik dan sangat asyik. Aku menolak mereka karena aku tidak mencitai
mereka. Ya, aku adalah tipe orang yang tidak mau menjalin suatu hubungan
tanpa perasaan. Semua perasaanku telah tersita seluruhnya untuk Putri.
Putri,
putri dan putri, nama itulah yang selau muncul di hari-hariku, selalu
melihat wajahnya bahkan saat aku menutup mata, selau mendengar suaranya
bahkan dalam kebisingan. Sering kali aku sering salah menyebut nama saat
membalas pesan dari wanita lain, aku menyebut namanya, putri. Sebuah
mantra ajaib yang melilitku. Melilitku dalam hari hari yang hanya di
penuhi oleh nama itu. “putri” kata yang selalu kusebutan di hatiku.
putri memiliki panggilan yang khusus untukku, ia memanggilku "jack" tentu saja itu bukan namaku, ia begitu menyukai karakter jack sparrow pada film pirates of caribbean, menurutnya aku mirip dengan tokoh itu. aku suka di sebut dengan panggilan itu, karena hanya putri yang memanggilku seperti itu. dan tentu saja, aku juga memiliki panggilan khusus untuknya.
Setahun
berlalu sejak kelulusanku di sekolah tampat aku dan ia bertemu. Itu
berarti dua tahun sudah aku menyukainya dan tidak pernah menyebutkan
nama lain di hatiku selain dia. Dalam suatu keadaan aku berpikir, “apa
aku harus terus begini, menyebut namanya yang bahkan tidak hadir secara
nyata di hadapanku, selalu memikirkannya yang belum tentu memikirkanku,
apa kah selamanya aku harus begini?” dan saat itu aku melihat seorang
wanita, ia lebih dewasa dariku, dan terlihat sekali kalau ia
menyukaiku. Muncul di pikiranku, mungkin aku bisa mengganti nama putri
di hati ini dengan memasukan nama lain, dan wanita itu sebut saja
bernama Vina.
Suatu malam, vina memintaku untuk menemaninya pergi ke acara pernikahan temannya, saat yang bagus untuk move on, setidaknya begitulah nioat awalku, tapi tetap tak bisa, aku tak pernah bisa menahan diri untuk tidak membalas sms putri, tak sebentarpun. Selesai
dari acara pernikahan temannya. Aku mengajak vina untuk berjalan-jalan
sebentar, malam itu udara agak dingin, aku memberikan jaket yangku
pakai kepada vina. Walaupun aku tidak menyukainya aku adalah orang yang
paling tidak bisa melihat wanita merasa tidak nyaman. Kami berhenti di
sebuah taman. Dan duduk membicarakan hal hal yang menyakut perasaan.
terlihat kalau si vina ini menyukaiku, dan malam itu aku mengatakan hal
yang sebenarnya sangat melawan prinsipku sendiri yang sudah lama
kutanamkan di pikiran dan hatiku. Aku memintanya untuk menjadi pacarku,
kata-kata yang sebenarnya sangatlah tidak romantis. Sebuah kata yang
keluar begitu saja dari mulut tanpa hati. Di sela pembicaran yang
sensitive itu aku menyelipkan sebuah pertanyaan tidak serius.
“Kalo gitu kita pacaran aja” kataku,
vina terdiam sejenak dan kemudian berkata “pacaran?” .
“iya,
kamu mau gak jadi pacar aku?” ulangku, lalu vina memberikan anggukan
tanda setuju. Dan sejak saat itu kami berdua menjalin hubungan yang di
sebut pacaran. Tidak terpikirkan olehku, aku akan berpacaran dengan
wanita seperti dia, umurnya 4 tahun lebih tua dariku, jelas ia lebih
dewasa, tapi wajahnya tidak ia memiliki wajah yang cukup cantik kurasa.
Saat
bersama vina aku berharap bisa melupakan nama Purti yang selalu ada di
hatiku, berharap ia bisa menumbuhkan sebuah perasaan yang dapat menutupi
perasanku terhadap putri walau tidak menghapusnya. Tapi itu ternyata
tidak semudah yang di bayangkan. Nama Putri tetap saja muncul
banyangannya, senyumnya yang indah. Selalu muncul di kepalaku.
Rumah vina sangatlah dekat dengan tempatku bekerja di Jakarta.
Otomatis setiap hari bisa bertemu, setiap malam aku kerumahnya,
mendengarkan ceritanya, keluhannya, dan kata kata cintanya terhadap ku.
Ia sangat menyayangiku.
Tapi
aku tidak.
Walaupun begitu aku selalu berusaha menjaga perasaannya,
tapi satu hal yang tidak bisa kutahan dan mungkin membuatnya jengkel
adalah. Membalas sms dari putri.
Aku
selalu membalas SMS putri dengan cepat, bahkan saat aku jalan dengan
vina, kurasa vina mengetahuinya, dan aku juga tak pernah menutupinya,
dari awal kita pacaran aku sudah bilang ke dia, putri adalah temanku
saat SMK, yang aku tidak bilang adalah aku menyukainya dari dulu sampai
sekarang.
dua
bulan sejak kami mulai pacaran, nama putri tidak pernah menghilang, aku
tidak pernah tahan jka harus tidak membalas SMS dari Putri. dan lama
kelamaan Vina berubah menjadi wanita yang egois, aku selalu menuruti
keinginannya, apapun yang ia minta kecuali dua hal, yang pertama adalah
saat ia memintaku untuk menikahinya, dan yang kedua adalah untuk tidak
membalas SMS dari Putri.
Vina
memintaku menikahinya, ia sangat takut kehilanganku, bagiku sebenarnya
wajar ia ingin menikah, umurnya sudah 23 hampir 24 tahun, dan itu usia
yang wajar bagi seorang wanita untuk menikah. Tapi aku hanyalah bocah
berusia 19 tahun yang belum siap secara mental dan financial. Dan juga
yang terpenting. Aku belum bisa mencintainya.
Tidak
membalas SMS dari putri sehari saja bisa membuatku gila. SMSnya bagai
narkoba bagiku, terus menagih. Tak pernah sedetikpun aku bisa berhenti
menyukainya, karena ia adalah orang yang selalu kupikirkan mulai bangun
tidur hingga ku tertidur lagi. Dialah orang yang selalu kubayangkan ada
disampingku. Dialah segalanya bagiku.
Tiga
bulan berlalu sejak hubunganku denan vina dimulai, dan dalam tiga bulan
aku sudah tau sifat aslinya yang egois, ingin menang sendiri dan matre.
Aku rasa ini semua cukup dan akupun memutuskan hubungan dengan vina
dam memulai hari hari sendiriku lagi hanya di temani oleh pesan pesan
singkat dari Putri.
Aku
mencintainya, ya aku memang mencintainya, ini lebih dari sekedar suka,
entah mengapa aku juga heran, mengapa aku bisa mencintai wanita yang
hanya muncul di inbox handphone dan jejaring social facebook ku saja.
Aku heran bagai mana ia bisa membatku tersenyum seharian saat ia membuat
lelucon mengenai diriku, khawatir saat ia bilang sedang ada problem,
sedih saat mengtahui ternyata ia sudah tidak memiliki sosok ayah. Aku
heran mengapa ia bisa membuatku seperti ini.
Dalam
hati aku berusaha mengumpulkan keberanianku untuk mengajaknya bertemu,
untuk sekedar makan atau nonton, tapi ia selalu menolak dengan berbagai
alasan, alasan yang kadang tidak terlalu masuk akal, saat itu ia sudah
putus dengan pacarnya yang dulu dan Aku sekarang berani untuk mulai
mengatakan perasaanku dengan nada-nada yang tidak begitu serius, meski
sebenarnya muncul dari lubuk hati yang paling dalam, menyatakan rasa
suka ku, dan puncaknya aku mengakui kalau aku orang yang menyukainya
semenjak di sekolah dulu, cinta pada pandangan pertama. Menyatakan
secara serius.
Tapi
reaksinya tidak pernah serius, ia tidak pernah menanggapi itu dengan
serius, ia membalas smsku yang panjang lebar hanya dengan kata kata
tidak serius, dan itu membuatku jengkel. tapi tetap saja tidak
menghilangkan rasa cintaku. Tidak menghilangkan rasa tergila-gilanya
diriku terhadapnya.
Aku
mulai mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya walau aku sadar itu
mustahil, tapi setidaknya aku mulai untuk tidak mengiriminya SMS duluan,
tapi aku tetap tidak bisa menahan kalau tiba tiba ia mengirimiku pesan
duluan.
beberapa
bulan berlalu sejak aku menyatakan perasaanku terhadapnya, aku sudah
beberapa kali mencoba mengajaknya ketemu. Tapi ia tetap menolak dengan
berbagai alasan. Ia menolakku. Ia selalu menolakku. aku heran apa yang
ia pikirkan, ia mengetahui bagai mana aku menyukainya, dan dia secara
tidak langsung sudah menolakku, aku sering bertanya bagai mana
perasaanya terhadapku dan ia selalu menjawab tidak tau.
Disuatu
malam, saat membuka jejaring social facebook ku , aku mencoba melihat
profilnya untuk sekedar mengirimkan wall, tapi malam itu adalah malam
yang membuatku seperti mendapatkan pukulan mematikan dari atlet silat,
terdapat sebuah kiriman di wall facebooknya. Status berpacaran dengan
*****, udara searasa lenyap di sekitarku, aku tidak bisa bernafas,
semuanya berputar, mataku terasa perih, tapi sebuah senyum tergaris di
bibirku, sebuah senyuman yang muncul begitu saja, sebuah senyuman yang
tidak seharusnya ada disaat ini. Dan saat itu pula tanpa membuang waktu
aku mengiriminya pesan singkat yang berisikan kekecewaanku terhadapnya,
aku agak sedikit berbelit-belit dengan kata-kataku, aku langsung
memutuskan hubungan pertemanan dengannya di facebook da memblokirnya,
aku juga meng-unfollow twitternya, aku menghapus nomor ponsel nya, aku
gila, aku kalap, dan aku hancur, aku kecewa kepadanya bukan Karena ia
berpacaran dengan orang lain, bukan karna ia tidak menyukaiku, terlebih
aku kecewa karena aku harus mengetahui kenyataan itu sendiri, kenapa ia
tidak pernah bilang kalau ia sedang dekat dengan seseorang. Kenapa dia
tidak pernah bilang ada pria yang memintanya menjadipacarnya, kenapa ia
tidak bilang padaku kemarin, kenapa ia tidak bilang sore itu saat kita
berkirim pesan singkat.
Aku
selalu sadar bahwa cintaku ini hanyalah bertepuk sebelah tangan, apa
yang selalu kupikirkan, hehe.. berharap dia suka padaku yang hanya ia
kenal lewat pesan singkat, kurasa dia tak sebodoh aku .dan sekarang aku
sedang mencoba melupakannya , secepatnya,
Ini
adalah untuk pertama kalinya aku merasakan sebuah tekanan didadaku,
mengoosongkan udara di paru paruku, ini untuk pertama kalinya aku sakit
hati.
Dan
kurasa aku harus mengakhiri ini semua, aku harus berhenti memikrkannya.
Aku harus berhenti berkirim pesan dengannya. Sebuah kisah manis yang
terjadi di hidupku,
Setiap
manusia memiliki kisahnya masing masing, setiap kisah memiliki akhir,
entah bahagia atau tidak. Mungkin untuk kisahku yang ini bukan lah kisah
yang bahagia, tapi aku kenudian berfikir ini belum berakhir, aku harus
terus melanjutkan kisahku sampai aku mendaatkan akhir yang bahagia untuk
diriku.
Putri,
wanita yang selalu ada di pikiran dan hatiku. Putri, wanita yang aku
cintai entah mengapa. Walaupun aku merasa sangat kecewa dan marah, tapi
itu tidak pernah cukup untuk memuat diriku membencinya, itu tak pernah
cukup untuk menghilangkan rasa cintaku, aku tak pernah menyesal telah
mengenalnya, aku tidak pernah menyesal telah menyukainya, aku tidak
pernah menyesal telah mencintainya. Ya, aku tak pernah menyesalinya,.
Sedikitpun tidak. Karena buatku mencintainya adalah hal terbaik yang
pernah kulakukan.

minta pulsa T_T
BalasHapusMaaf, papa lagi di kantor polisi.
Hapussejak kapan?
Hapus